Amrizal's Site

Guratan Hati

Blog EntryCERPEN I : MERAH PUTIHNov 17, '07 10:01 PM
for everyone
MERAH PUTIH

   Sejak tadi mataku tak lekang dari pengemis perempuan yang berjalan dengan gontai di antara kendaraan yang berhenti karena lampu merah itu. Tangannya yang memegang gelas besi putih digoyang-goyangkan ke arah seorang pengendara motor bebek. Sesaat kemudian bertambahlah isi gelas itu seribu rupiah.
   Edan! Umpatku dalam hati. Mudah amat orang itu dapat uang. Mungkin penghasilannya sebulan lebih tinggi dariku. Bagaimana kalau aku jadi pengemis juga? Aku bertanya pada diri sendiri. Aku mungkin tidak perlu bangun terlalu pagi dan buru-buru menunggu bis untuk ke kantor. Aku juga tidak perlu dapat omelan bos karena kesalahan-kesalahan yang sepele. Hidup bisa jadi lebih bebas.
   Aku bangkit dari kursi kayu panjang di depan toko fotokopi dekat kantor. Aku mendengus kesal. Kulirik arlojiku. Kayaknya Heri tidak akan datang lagi hari ini. Dia selalu saja ingkar janji. Lebih baik aku pulang sekarang.
   Aku berbelok ke kanan. Sinar matahari sangat terik. Rasanya seperti membakar kulitku. Kulirik arloji peninggalan ayahku. Hampir jam tiga.
   Aku mengeluh dalam hati. Apalagi alasan yang akan kukatakan pada ibu kosku? Ia pasti tidak akan percaya kalau kukatakan aku membantu temanku yang dirawat di rumah sakit sehingga tidak bisa bayar kos hari ini. Itu alasanku bulan lalu.
  Kalau aku terus terang bahwa gajiku bulan ini terpaka untuk mengganti inventaris kantor berupa komputer yang kurusak, tentu ia lebih tidak terima.
   Seratus meter lagi aku sampai di halte bis. Aku melewati gang sempit yang sangat bau. Aneh juga, pikirku. Sudah lima tahun lebih aku lewat sini, tapi aku belum juga bisa terbiasa dengan bau busuk itu. Di sana-sini tampak gerobak sampah yang penuh.
   "Toloong!" terdengar suara rintihan.
   Aku terkejut. Segera kucari asal suara itu.
   "Tolong!" suara itu lagi.
   "Kamu dimana?" seruku.
   "Di sini." Asalnya dari gerobak sampah di ujung jalan.
   Aneh, tidak ada siapa-siapa di sini, pikirku.
   "Tolong bawa aku keluar dari tempat busuk ini." pintanya.
   "Tapi kamu dimana? Aku tidak melihat siapa-siapa di sini."
   "Kamu melihat bendera merah putih, tidak?"
   "Tidak." sahutku sedikit takut. Jangan-jangan
   "Carilah." Suara itu semakin memohon."Tolonglah aku."
   Aku mengambil setangkai kayu disana. Lalu kuaduk-aduk sampah itu. Ya, benar. Ada sehelai kain berwarna merah putih yang sangat kotor dan robek di sana-sini. Aku mengaitnya dan menghempas ke tanah.
   "Tolong bawa aku pergi dari tempat ini."
   Aku tersentak. Bendera itu bicara? Aku pasti sudah gila. Aku bersiap-siap. Ini pasti hantu.
   "Jangan lari. Kamu mau jadi kaya kan? Aku akan membantumu."
   Aku kembali melihatnya. Ya, aku sangat ingin jadi kaya. Perlahan-lahan kupungt bendera itu.

########
   Bendera itu berukuran dua kali satu meter. Besar sekali. Seingatku yang seukuran itu cuma bendera pusaka Indonesia yang sering dipakai di upacara kenegaraan. Warnanya sudah sangat pudar. Bukan merah lagi, tapi sudah oranye. Dua sudutnya telah hilang. Di sana-sini tampak robekan seperti disengaja. Dan lagi bendera itu sangat kotor dan bau.
   "Tolong cuci aku sampai bersih." pinta bendera itu. "Aku tidak tahan dengan bau busuk ini."
    Kuikuti keinginannya. Mudah-mudahan dia benar-benar bisa membuatku kaya. Ketika kujemur di luar kamar kosku, temanku, Zaki, keheranan.
   "Mau kamu apakan bendera jelek itu, Man?"
   Aku tersenyum. "Tahu nggak kalau bendera ini-" Aku hampir mengatakan bahwa bendera ini bisa bicara. Tapi kuurungkan. Pasti dia akan menganggapku gila.
   Setelah kering aku membawanya ke dalam kamar. Ini saat bagi bendera itu untuk menepati janjinya.
   "Nah, bagaimana kau bisa membuatku kaya?" tanyaku setelah meletakkannya di atas kasur dalam keadaan terlipat.
   "Tenang dulu." katanya. "Kamu harus dengar dulu ceritaku."
   "Ok, aku menunggu."
   Dia mulai bercerita. "Aku sebenarnya berasal dari kota ini juga, Makassar. Kamu tahu? Aku adalah bendera merah putih pertama yang dibuat di daerah ini. Kala itu, pembuatku, Pak Malik namanya, baru saja mendengar dari radio bahwa Sukarno dan Hatta baru saja memproklamirkan kemerdekaan. Langsung saja dia menyuruh istrinya membuatku dari sisa kain peninggalan Belanda.
   "Jadi kamu salah. Yang membuatmu istrinya, bukan Pak Malik."
   "Ya, dua-duanya. Kan yang mencarikan kain Pak Malik." Bendera itu tidak mau kalah. "Lantas setelah itu Pak Malik, sebagai salah satu pejuang, segera berseru pada masyarakat bahwa kita sudah merdeka. Senang sekali rasanya."
   Setelah tiga puluh lima tahun, Pak Malik dipanggil anaknya yang sukses di Timor-timur untuk tinggal bersama. Aku senang sekali karena Pak Malik dan istrinya masih setia padaku. Mereka membawaku serta. Tiap bulan Agustus, aku selalu dikibarkannya, padahal sebenarnya banyak bendera lain yang lebih bagus. Sampai suatu hari, kalau tidak salah di tahun 99, aku yang lagi dijemur di halaman mendengar seruan "Merdeka!" Kulihat rombongan orang-orang mendatangi rumah Pak Malik. Mereka memukuli Pak Malik dan istrinya. Aku mendengar, "Hidup Timor merdeka!" Tiba-tiba aku ditarik dari tali jemuran dan dirobek-robek."
   Aku mendengarnya dengan penuh seksama. Aku sama sekali tidak menyangka peristiwanya setragis itu.
   "Lantas aku dibuang ke laut."
   Ia berhenti bicara.
   "Lalu apa?" Aku penasaran.
   "Di laut aku terkatung-katung. Tiba-tiba saja terpetik hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Kenapa bendera merah putih seperti aku bisa memiliki sifat-sifat seperti manusia? Aku bisa merasa senang ketika diarak keliling kota. Aku bisa melihat dan mendengar. Aku merasa sakit ketika dirobek-robek oleh orang Timor. Dan aku merasakan dinginnya air laut.
   Aku lalu berdoa. "Ya, Tuhan, hilangkanlah sifat-sifat manusia ini dariku. Punya perasaan itu sangat tidak enak. Apalagi kalau sedang menderita."
   Tiba-tiba saja aku seperti mendengar sesuatu. "Kamu bisa menghilangkan sifat-sifat manusiamu apabila kamu bertemu kembali dengan pemilikmu yang dulu. Dan untuk menolongmu, kamu akan dianugerahi kemampuan bicara pada orang yang bernasib malang sepertimu."
   "Jadi aku orang yang bernasib malang itu?"tanyaku.
   "Iya."katanya tanpa ragu. "Aku mohon, tolonglah pertemukan aku kembali dengan pemilikku, Pak Malik. Agar aku bisa menghilangkan sifat-sifat manusia ini dari diriku."
  "Tapi bagaimana caranya? Timor-timur bukan lagi wilayah Indonesia. Dan lagi, aku tidak tahu alamat Pak Malik."
   Kami terdiam. Berusaha memikirkan caranya.
   "Ngomong-ngomong" Aku membuka suara. "Bagaimana dengan janjimu membuatku kaya?"
   "Maafkan aku. Aku ... bohong."
   "Apa?" Telingaku memerah. Aku paling benci orang membohongiku. Apalagi oleh bendera. Aku sangat marah.
  "Maafkan aku." Bendera itu memohon.
   "Aku tahu cara untuk menghilangkan sifat manusiamu itu."

"Bagaimana? Bagaimana?" Dia gembira.
  Aku membawa bendera itu keluar dengan terlebih dahulu menyambar korek dan tempat minyak tanah.
   Kusirami bendera itu dengan minyak tanah.
   "Apa yang kau lakukan?" Bendera itu panik.
   Kunyalakan korek api.
   "Satu-satunya cara untuk menghilangkan sifat manusiamu itu adalah dengan menghilangkanmu dari muka bumi."
   "Jangan!" teriaknya.
   Terlambat. Api telah menjilatnya. Tiba-tiba aku sadar.Bendera itu bisa merasakan sakit.
   Tapi aku tidak berbuat apa-apa lagi, kecuali melihatnya. Aku tertawa dalam hati. Siapa suruh kau membohongiku!

Amrizal, Makassar, Agustus, 2002
Didigitalkan Makassar, 6 September 2007


Blog EntryTIGA KEINGINANNov 17, '07 9:39 PM
for everyone
   Mungkin anda pernah mendengar cerita tentang seseorang yang menemukan botol kaca tertutup di tepi pantai. Iseng dia membuka tutup botol itu dan Wsssh! tiba-tiba keluarlah jin sakti yang rupanya telah dikurung berabad-abad lamanya di dalam botol itu. Sebagai ucapan terima kasih, jin tersebut memberikan tiga permintaan kepada si penolongnya. Dasar si penolong berjiwa miskin. Dia meminta 3 TA, yaitu memiliki harTA yang banyak, dikelilingi waniTA cantik dan diberi tahTA kekuasaan. Belakangan dia menyesal meminta hal tersebut karena ternyata ketiga hal itu tidak membuatnya tidak bisa membuatnta bahagia selamanya.
   Saya selalu berpikir tentang apa yang akan saya minta kalau di beri kesempatan seperti di atas. Dan saya telah tahu jawabannya.
   Untuk permintaan pertama, saya akan meminta untuk selalu bisa merasa bahagia atas apapun kenyataan yang saya alami. Saya sadar bahwa kebahagiaan adalah tujuan semua orang dalam melakukan kegiatan apapun. Kebahagiaan itu bukan karena sesuatu hal diluar diri kita tapi kebahagiaan itu karena faktor dari dalam diri.
   Untuk permintaan kedua, saya ingin Indonesia menjadi negara maju. Hal-hal yang merusak negara ini seperti korupsi, kebijakan negara yang salah dan lain-lain bisa hilang dalam sekejap. Saudara-saudara sebangsa Indonesia tidak ada lagi yang menderita. Semuanya bisa hidup dengan sejahtera.
   Untuk permintaan ketiga, saya ingin tidak ada lagi ketidakadilan di dunia ini. Tidak ada lagi pemaksaan kekuasaan dari satu negara terhadap negara lain seperti yang terjadi saat ini di Timur Tengah. Tidak ada pembunuhan dan kesewenangan dari satu individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain.
   Kalau anda yang mendapat tiga permintaan tersebut, apa yang anda minta?

Amrizal, Cilegon, 24 Juli 2007


Blog EntryPerpustakaan Terbaik di IndonesiaNov 17, '07 9:34 PM
for everyone
Entah sejak kapan saya menjadikan Gramedia sebagai salah satu "perpustakaan" saya. Ya, saya menganggap Gramedia itu hampir sama dengan perpustakaan umum lain dimana kita bisa baca buku secara "gratis". Tapi ini dengan koleksi buku-buku yang lebih bagus.
Mungkin sudah ratusan buku yang saya baca gratis dari toko buku ini. Buku terakhir yang saya ingat FINANCIAL REVOLUTION karya Tung Desem Waringin, MENJADI PENGUSAHA TIDAK KAYA, PERCUMA, karya Safir Senduk, CARA MENJADI HACKER, dan puluhan buku-buku bestseller lainnya.
Saya sebenarnya tidak terlalu yakin kalau ini adalah hal yang etis. Tapi saya sama sekali tidak dapat membendung rasa penasaran terhadap buku-buku tersebut. Sejak dulu minat baca saya memang tinggi, terutama terhadap topik-topik yang menarik bagi saya seperti topik pengembangan kepribadian, fiksi, sejarah tokoh-tokoh terkenal, how to, dan agama. Apalagi kalau melihat bentuk, judul, dan sinopsis buku zaman sekarang yang dirancang sedemikian rupa untuk menggoda pembaca.
Minat baca tinggi yang tidak disertai kekuatan finansial yang baiklah yang awalnya mendorong saya "memanfaatkan" gramedia. Tiap kali ke gramedia, saya bisa membaca lebih dari enam buah buku. Dan semuanya itu sering merupakan buku bestseller. Saya bisa membaca buku tersebut karena pada tiap kumpulan buku biasanya selalu terdapat satu buku yang segelnya terbuka. Dan inilah incaran saya.
Awalnya saya merasa ragu menjalankan "hobi" saya ini. Tapi belakangan saya mendapati bahwa Gramedia ternyata mulai menyokong orang-orang seperti saya. Hampir semua Gramedia yang sudah saya datangi, seperti Gramedia Cibinong, Pondok Indah, dan Bintaro, menyediakan kursi buat para pengunjung untuk membaca. Dan pada tiap kumpulan buku pun selalu disediakan satu buku tidak tersegel yang bisa "dimangsa" isinya. Karena itu hati saya sekarang ini tidak terlalu merasa bersalah lagi.
Namun, walaupun memang ada larangan, saya rasa itu tidak akan bisa menghentikan kebiasaan saya ini (he he, bandel ya). Saya ingat waktu masih tinggal di Makassar, "hobi" saya ini ditentang keras oleh para toko buku. Kata-kata seperti "dilarang duduk", "dilarang membaca", "ini bukan taman bacaan", beberapa kali saya temui, tapi tetap saja saya bisa membaca setidaknya satu buku tiap kali datang ke toko buku. Larangan duduk tidak bisa menghalangi saya, karena jika saya tertarik terhadap satu buku tertentu, saya bisa terpaku berdiri di tempat, membaca buku tersebut dari halaman pertama sampai terakhir. Ya, tentu saja bukan buku yang sangat tebal macam Harry Potter. Tapi bisalah setebal buku fenomenal seperti "Financial Revolution" karya Tung Desem Waringin.
Awalnya saya memang melakukan hal ini karena kelemahan finansial. Tapi sekarang bukan itu alasannya. Dengan profesi sebagai dokter, saya sebenarnya bisa membeli beberapa buku tiap bulan, tapi saya merasa itu tidak efisien. Dulu saya pernah beberapa kali membeli buku, yang ternyata saya hanya baca sekali, dan selanjutnya buku itupun nganggur di rumah. Hanya sekali dua kali saya menyentuhnya. Saya merasa rugi kalau membeli buku seperti itu lagi. Buku seperti itu saya rasa cukup dibaca di toko atau perpustakaan atau disewa di tempat rental buku yang sekarang banyak menjamur. Kini saya lebih selektif dalam membeli buku. Saya hanya membeli buku yang bersifat "abadi". Maksudnya buku yang bisa terus bermanfaat, baik bagi saya maupun bagi orang lain. Buku yang saya maksud dan memang saya pernah saya beli adalah seperti "7 Kebiasaan Remaja yang sangat efektif", "Belajar Bahasa Arab sistem 30 hari", "Kiat bermain Gitar", "Menjadi Penulis Skenario Profesional", "Terapi Mata" dan masih banyak lagi.
Saya merasa mendapatkan sangat banyak ilmu dengan cara seperti ini. Saya tidak pernah merasa merugikan pihak toko buku, karena saya selalu membaca buku dengan rapi. Saya tidak pernah merusak buku yang saya baca.
Harusnya sih perpustakaan umum yang mewadahi orang-orang seperti saya, tapi lihat saja kondisi perpustakaan umum sekarang. Selain koleksinya yang kebanyakan buku lama, jumlah perpustakaan umum pun sedikit, sehingga biaya dan waktu transpor ke tempat tersebut menjadi penghalang tambahan. Bandingkan saja dengan toko buku seperti Gramedia. Sudah tempatnya ber-AC, koleksi bukunya banyak dan baru, tempatnya pun banyak.
Saya bukannya menyanjung-nyanjung Gramedia. Tapi dari fakta yang ada, memang Gramedialah toko buku paling banyak di negeri ini. Ada sih toko buku lain seperti Mizan dan Karisma, tapi ini masih sangat sedikit. Mudah-mudahan toko buku lain bisa melaju pesat seperti halnya Gramedia.
Tantowi Yahya, duta buku di Indonesia, pernah mengatakan bahwa untuk meningkatkan minat baca di Indonesia, setiap mal di Indonesia akan dianjurkan membangun perpustakaan dalam mal. Ini karena mal menjadi salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi oleh masyarakat. Saya pikir dengan adanya toko buku di mal seperti Gramedia, dan Karisma yang membolehkan pengunjung membaca koleksi bukunya, maka hal itu sudah terwujud. Hanya perlu dimarakkan lagi, karena tidak semua mall ada toko bukunya.
Tapi sebagai pengunjung yang numpang baca, kita juga tetap harus menjaga buku itu dengan baik. Tidak membuatnya lecek atau terlipat karena biar bagaimanapun buku tersebut adalah barang jualan.
Jadi selamat berburu ilmu di "Perpustakaan Modern"
Amrizal, 20 Juli 2007


Blog EntryCatatan Hati Seorang Dokter 2Nov 16, '07 10:42 PM
for everyone
SEKALI LAGI MENJADI HAKIM KEMATIAN

Selasa, 1 Agustus 2007, aku kembali "menjalani" sebuah kematian. Sungguh berat rasanya mendapati orang sekarat, yang napasnya tinggal satu-satu. Apalagi sebagai orang yang memutuskan apakah dia sudah meninggal atau tidak. Tanggung jawab itu rasanya begitu besar. Sulit sekali mengatakan kepada keluarganya. Tapi akhirnya dengan segenap kekuatan kalimat itu terungkap. "Maaf, Pak, dia sudah meninggal!"
Tangis keluarga langsung pecah. Suaranya memenuhi seluruh ruangan di klinik 24 jam itu. Aku tertunduk lesu. Aku bisa merasakan kesedihan para keluarga. Air mata ini juga mau meluber sebenarnya. Tapi berhasil aku bendung.
Terlepas dari keadaan pasien yang berat, aku tetap menyesali kenapa aku tidak bisa menyelamatkan jiwanya. Hati kecilku tidak bisa menerima kalau mungkin memang ajalnya sudah di situ, seperti kepercayaanku kalau ajal setiap orang itu sudah ditetapkan tempat dan waktunya secara tepat.
Wanita paruh baya itu memang datang dengan keluhan penyakit jantung, penyakit yang sangat mematikan kalau tidak ditangani dengan intensif. Setelah diperiksa, dianjurkan kepada keluarga untuk segera membawanya ke rumah sakit saja. Klinik 24 jam yang aku tempati tidak memadai dari segi prasarana untuk merawat wanita itu.
Lagi-lagi biaya menjadi batu sandungan. Salah satu anggota keluarga mengatakan tidak memiliki dana untuk masuk rumah sakit. Untuk masuk rumah sakit, harus disiapkan setidaknya tiga juta rupiah sebagai uang masuk. Gila.Belum masuk sudah bayar!
Akhirnya keluarga memaksakan untuk tetap dirawat di klinik. Kita sebagai dokter tentu saja tidak bisa memaksakan untuk pindah kalau mereka tidak mau. Kita hanya bisa memberikan pertolongan maksimal.
Akhirnya, suara panik yang dari awal sudah kuduga muncul juga sekitar pukul 18.00. Aku segera memeriksanya. Seluruh keluarga memanggil-manggil nama wanita itu. Suara tangisan membahana. Wanita itu sudah tidak bernapas.Dipanggil diam saja. Kuperiksa arteri di lehernya, tidak ada denyutan. Stetoskop sudah tidak bisa lagi mendeteksi denyut jantung. Refleks pupil matanya sudah tidak ada lagi.
Saya sudah menduga pasien ini akan meninggal. Tapi aku tidak mau bilang dulu sama keluarganya. Kucoba lakukan pertolongan pertama. Aku segera membebaskan jalan napasnya. Dia kembali bernapas. Satu. Dua. Lambat sekali. Jantung masih tidak berdenyut. Aku mencoba melakukan pompa jantung. Tapi tidak juga membaik. Kuintip pupil matanya dengan senter. Ternyata sudah melebar dan tidak ada reaksi lagi. Akhirnya kunyatakan pasien ini telah meninggal.
Berat rasanya mengatakan itu. Tapi mau tidak mau harus kukatakan. Dan ini disambut jeritan anggota keluarga. Aku meninggalkan mereka yang berduka dalam keadaan ikut terguncang. Tidak percaya aku bisa mendapati kasus kematian seperti ini lagi.
Ini benar-benar mengingatkanku akan kematian. Serasa menegurku untuk kembali mempersiapkan kematian yang tidak bisa tertebak. Tidak ada yang tahu kapan kematian seseorang. Aku bisa saja meninggal seperti itu. Ya, Allah, batinku. Ampunilah dosa-dosaku baik yang sengaja maupun tidak sengaja aku lakukan. Kalau nanti sudah sampai waktuku, matikanlah aku dalam keadaan khusnul khatimah.
Keesokan harinya aku melayat kematian ibu itu. Rasa bersalah karena menjadi "pemvonis kematian" tetap menggelayut. Aku merasa tidak sanggup menatap wajah keluarga yang ditinggalkan. Aku mengikuti jenazahnya diangkat, diantar ke kuburan, dan di makamkan. Saat jenazah diletakkan, ditutup dengan kayu, dan ditimbun. Saat-saat itu begitu membekas di sanubari.
Aku sadar aku tidak bisa mencegah kematian kalau memang sudah waktunya, tapi aku merasa bersalah, belum bisa memberi pertolongan maksimal yang seharusnya karena pengetahuanku masih sangat kurang.Aku berjanji akan belajar lebih banyak lagi.
AMRIZAL
CIBINONG 1 AGUSTUS 2007
MAKASSAR, 26 AGUSTUS 2007



Blog EntryDungu Tidak Berarti IdiotNov 16, '07 10:42 PM
for everyone
Dungu tidak berarti idiot

"Kenapako tidak ikut, Dongo! Ramai sekali acaranya'."
(Kenapa kamu tidak ikut, dungu! Acaranya ramai sekali)
Begitulah salah satu bentuk kalimat yang biasa djumpai di Makassar. Memang struktur bahasanya sangat kacau, tapi di sinilah letak keunikannya. (Baca tulisan ipul berjudul "Makan mi!")
Mendengar kata dungu di atas, orang luar yang tidak terbiasa dengan logat Makassar kemungkinan besar akan tersinggung. Kasar sekali kedengarannya. Kenapa sih kamu bilang saya dungu? Saya tidak dungu! Begitu reaksi dari mereka.
Tapi jika mereka mengerti dengan maksud si pembicara, mereka mungkin langsung akan tertawa. Atau jika mereka lama berinteraksi dengan orang-orang Makassar, bisa-bisa mereka ikut-ikutan memakai kata ini.
Dungu (dongo') di sini memang berarti bodoh dalam Bahasa Indonesia. Tapi sama sekali tidak bermaksud menghina. Tidak bermakna bahwa lawan bicara itu idiot atau berIQ jongkok. Ini hanyalah salah satu ucapan bernada "sayang" atau "peduli". Contoh di atas mungkin bisa diartikan sebagai berikut:
Alangkah sayangnya atau alangkah ruginya kamu tidak ikut acara itu. Acara itu begitu ramai. Di sana banyak teman-teman seangkatan kita yang sudah lama tak kita jumpai.
Sungguh suatu istilah yang aneh bukan? Tapi ini mungkin bisa dianggap sebagai majas ironi saja, yakni penggunaan kata yang bertolak belakang untuk mengungkapkan makna sebenarnya. Bisalah dibilang seperti kalimat yang ditujukan pada orang yang sering terlambat bangun sebagai berikut:
"Rajin sekali kamu ya. Baru jam sebelas pagi sudah bangun."
Kalimat ini bermaksud sama dengan kalimat pertama tadi. Tapi ini berbentuk kalimat yang seolah-olah halus untuk menyampaikan makna yang kasar. Tapi kalimat pertama di atas menggunakan kata yang kasar untuk menyampaikan makna yang baik.
Ada satu pengalaman lucu saat sepupu menyuruh saya datang ke suatu acara keluarga.
"Pergimako ke pengantin, dongo! Banyak kue. Enak-enak kuenya." kata dia. (artinya: pergilah ke acara pengantin itu, nanti kamu akan bisa menikmati banyak kue yang enak-enak)
"Tidak mau ja' deh. Kalau pergika' berarti saya dongo'! Saya tidak mau jadi orang dongo'! balasku bercanda.
(artinya: Saya tidak mau pergi karena kalau saya pergi berarti saya dungu. Saya tidak mau jadi orang dungu."
"Sori. sori" katanya tertawa. "Kebiasaan, bilang dongo'"

dr. Amrizal Muchtar, S. Ked
















Blog EntryCatatan Hati seorang Dokter 1Nov 16, '07 3:01 AM
for everyone
DOK, KOK SAYA BELUM SEMBUH SIH?

Sore itu seorang ibu muda datang dengan muka berseri membawa anaknya ke tempat praktek saya di Klinik Wisata Medika, Anyer.
"Gimana, Bu, sekarang anaknya?" tanyaku.
"Alhamdulillah, Pak Dokter. Sekarang jauh lebih baik. Batuk-batuknya sudah berkurang. Obatnya benar-benar bagus. Sekali minum aja, langsung deh dia bisa main"
"Alhamdulillah." kataku bersyukur. "Kalau begitu, ibu harus terusin obatnya ya, sampai benar-benar sembuh."
"Iya, dok. Trima kasih, Pak Dokter."
Saat itu saya bahagia sekali. Saya telah membantu orang menjadi sehat. Perasaan ini tidak mampu dilukiskan dengan kata-kata. Begitulah perasaan saya tiap kali mengetahui pasien saya sehat kembali dengan resep obat dari saya.
Tapi suatu waktu saya mendapat kasus lain.
Sepasang orang tua membawa anak laki-lakinya pada saya. Mereka tampak cemberut.
"Dok, kenapa panas anak saya belum turun?"tanya ibunya. "Obatnya sudah habis tapi kok belum sembuh ya, Dok?"
Perasaan saya langsung berkecamuk. Rasa bersalah menggerayangi. Ya, Allah. Kenapa? Kenapa aku tidak berhasil menyembuhkan pasien ini? Apa yang salah, ya, Allah? Mereka sudah datang kepada saya, mengharapkan bantuan saya untuk menolong anak mereka. Tapi kenapa dia belum sembuh? Kasihan mereka! Sudah mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit, tapi apa hasilnya.
Dua peristiwa itu adalah contoh pengalaman yang mewarnai hidup saya sebagai dokter. Saya yakin dokter-dokter lain juga begitu. Ketika pasien sembuh, hati merasa senang sekali. Sebaliknya di saat pasien tidak sembuh-sembuh, hati ini menjadi sedih. Gelisah. Rasa bersalah. Apakah aku ini layak jadi dokter? itulah pertanyaan yang kadang muncul.
Aku benar-benar mengharapkan semua pasienku sembuh. Sampai-sampai aku sering berdoa pada Allah untuk semua pasienku. Intensitas doaku makin menguat tatkala menghadapi pasien rawat inap, dimana saya mengikuti perjalanan penyakitnya yang belum sembuh-sembuh juga.
Ya. Allah sembuhkanlah semua pasienku! jeritku selalu dalam doa.
Dua hari yang lalu, seorang ustaz yang pernah mengantar berobat orang yang ditabraknya datang lagi ke klinikku untuk membayar utang pengobatannya. Aku sempat mengobrol dengannya.
"Enak ya, Dok, jadi dokter? Bisa mengobati orang lain? Benar-benar pekerjaan mulia."
"Stres Pak Jadi dokter." keluhku.
"Stres kenapa, Dok?" tanyanya.
"Stres kalau pasien tidak sembuh-sembuh." curhatku.
"Bukan dokter yang menyembuhkan." katanya. "Tapi Allah."
"Iya juga sih. Tapi..." aku tidak melanjutkan.
"Ada kisah nabi musa yang cocok buat dokter. Dahulu umat nabi musa mengalami penyakit aneh. Lalu mereka meminta tolong pada musa.
Ya. Musa. Mintakanlah kami pada Tuhanmu, obat untuk penyakit kami., pinta mereka.
Setelah berdoa dan diberi wahyu, Musa berkata. Ambillah daun ini karena daun tersebut akan mengobati penyakitmu. Setelah minum ramuan daun yang dimaksud, mereka langsung sembuh.
Beberapa waktu kemudian, mereka kembali mendapat penyakit yang sama. Tanpa memberitahu Musa, mereka langsung mengambil daun yang sama dengan dahulu kemudian menjadikannya obat. Ternyata, mereka tidak sembuh seperti saat pertama memakai daun tersebut. Mereka bertanya ke Musa. "Wahai Musa, kenapa kami tidak sembuh dengan obat yang dulu engkau berikan kepada kami?"
Musa berkata. "Ya, umatku, sesungguhnya bukan daun itu yang menyembuhkan engkau tapi Allah."
Aku tertegun dengan cerita itu. Aku merasa diperingatkan kembali oleh Allah lewat ustaz itu. Ya, Memang Dia yang Maha Penyembuh. Bukan saya yang menyembuhkan. Saya hanya perantara saja.

AMRIZAL, CIBINONG 12 AGUSTUS 2007


Blog EntryUlang tahun...Nov 14, '07 9:05 AM
for everyone
Hari ini genap 26 tahun... aku hidup di dunia..
Ya Tuhan... Aku belum bisa sepenuhnya menjalankan tugasmu di dunia.
Seperti dalam firman-Mu. "Tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help